(Sambungan coretan sebelumnya, masih di DTSD The Series..)
..Setelah membaca nama di softcopy hasil download tentang pembagian kelas DTSD (Diklat Teknis Substantif Dasar) yang gw copy dari siapa-gw-juga-lupa, gw amatin ternyata gw hanya mengenal 3 biji dari 33 siswa yang bakal sekelas nanti :hammer. Nike, Dhimas, dan satu lagi yang baru gw kenal di Balikpapan, Jemma.
..Setelah membaca nama di softcopy hasil download tentang pembagian kelas DTSD (Diklat Teknis Substantif Dasar) yang gw copy dari siapa-gw-juga-lupa, gw amatin ternyata gw hanya mengenal 3 biji dari 33 siswa yang bakal sekelas nanti :hammer. Nike, Dhimas, dan satu lagi yang baru gw kenal di Balikpapan, Jemma.
Bla bla blah, 26 September 2011 adalah hari pertama gw masuk kelas Diklat ini. Ditunjang warga-warga kelas yang ternyata asik, pada tanggal 28 September sepulang kuliah, kita pun langsung melakukan hangout pertama kelas, Ice Skating-an.
Esoknya, Kamis 29 September, gw bertiga (Arya yang cukup jago dan Dhimas yang berambisi menjadi jago setelah bermain satu field dengan juara dunia) kembali maen Ice Skating dikarenakan kurang puas akan Ice Skating kemarin hari yang notabene ngelatih temen doang..hahahh *sok bisa padahal nol banget :hammer
Pulang makin meler.
Jumat 30 September malam. Saya berniat untuk istirahat semalaman, sekedar recovery. Tetapi entah mengapa saya pun mengiyakan ajakan temen untuk melakukan trip ke Pulau Semak Daun di Kepulauan Seribu. Jujur, googling mendetail tentang pulau ini saja belum sempat, sekedar melihat beberapa google images-nya saja. Awalnya sih sempat galau antara ikut atau tidak karena kondisi fisik gw yang belum pulih. Tetapi gw teringat akan sesuatu, video yang diputar oleh dosen Kreatifitas dan Inovasi kemarin, yang intinya “Andai saja kita lebih berani dan membebaskan kreatifitas diri dalam menjalani kehidupan, seperti anak kecil yang tidak takut gagal, niscaya kita akan lebih sukses mengukir indahnya hidup”. Perlahan gw mencoba mencerna kebenarannya, dan akhirnya saya pun meng-iyakan ajakan backpackeran tersebut. Ya, resume-an film tersebut mirip dengan motto hidup yang sejauh ini gw pegang dan sering gw kampanyekan, yaitu “Hidup ini punya orang berani.” Pengen buat tattoonya juga sih.
Yap. Semuanya seperti taruhan saja, kapan lagi bisa maen di Jakarta bareng kawan selain pas DTSD ini, bukan? Ingat, akhir November kita semua sudah harus kembali ke perantauan.
Hari Jumat pukul 2:00 A.M, saya yang kelaparan di kos mulai menuangkan air panas ke dalam Pop Mie. Setelah cukup mengisi perut, gw pun langsung menuju Seven Eleven Kemanggisan 2:30 A.M, disana sudah ada si Dhimas. Makan, ngobrol, rokokan, dan menunggu beberapa teman kumpul hingga subuh.
Setelah sholat kita bersepuluh menuju Muara Angke dengan angkot subuh yang bisa ditawar sangat murah. Setelah sampai di Muara Angke yang penuh bau ikan, kitapun masuk ke dalam perahu dan sekitar 3-4 jam kemudian kitapun sampai di Pulau Pramuka. Trip kali ini ke Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, Pulau Panggang. Menurut saya, coral paling bagus diantaranya ada di Pulau Air.
Setelah sholat kita bersepuluh menuju Muara Angke dengan angkot subuh yang bisa ditawar sangat murah. Setelah sampai di Muara Angke yang penuh bau ikan, kitapun masuk ke dalam perahu dan sekitar 3-4 jam kemudian kitapun sampai di Pulau Pramuka. Trip kali ini ke Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, Pulau Panggang. Menurut saya, coral paling bagus diantaranya ada di Pulau Air.
The Squad
Sunset. Saatnya kembali dari tengah laut
Edisi Underwater:
Hari pertama peserta snorkeling di beberapa spot di Pulau Air lengkap 10 orang, dan hari kedua snorkeling di beberapa spot di Pulau Panggang sejumlah 6 orang.
Snorkeling day 2
Si Dhimas yang keberadaan tititnya masih dipertanyakan gara-gara serbuan ikan-ikan terhadap biskuit dalam celana dalamnya.
Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, Pulau Panggang, dan pulau-pulau lain yang dilewati, sampai jumpa.
Bersambung ke DTSD Part III...















0 comments:
Poskan Komentar