Selasa, Januari 17, 2012

Balikpapan's 2011 in A Brief

Tidak ada yang spesial dari tulisan ini.
Hanya rekaman fotografis seadanya di Balikpapan tahun 2011, dimana hasil yang bagus adalah hasil kamera teman saya sedangkan hasil yang biasa saja atau kurang dari itu adalah dari kamera saya.


From the Sky


To the Earth


From Jakarta


To Balikkapan


From Daylife


To Nightlife


From Electric


To Classic


Happy New Year 2012.



Read more...

Senin, Oktober 31, 2011

Minggu, Oktober 30, 2011

DTSD Part III (Yogyakarta)

Ha! Sabtu 22 Oktober pagi tiba-tiba saya sudah berada di Jogja.

Lapar. Bersihin muka di masjid terminal. Ngerental mobil.

Jam 10.00 a.m. kita sarapan di Soto Pak Marto depan JEC, reviewnya sama seperti yang gw tulis di foursquare, "Sotonya enak. Buskernya talented. Lidah dan kuping sama-sama makan. Try: Iced Coffee." Dan satu lagi: murah! Bayangin aja 11.000 rupiah udah bisa dapet soto enak + es kopi + es jeruk + musik dari buskers! Bandingin dengan Balikpapan 11.000 rupiah dapet makanan tapi ga berasa. Zzz.

  Jogja buskers

Setelah kekenyangan, kita berenam pun melanjutkan perjalanan menuju pantai. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam, dan uniknya selama perjalanan diiringi oleh radio Jogja yang tentu saja menyetel musik-musik yang Jogja banget. Walaupun saya banyak ga pahamnya, seenggaknya dapet feel Jogjanya lah.

 
With Jogja buskers

Pantai yang dituju yaitu Pantai Siung, Sundak, Baron, Kukup, Krakal. Bagi saya, nama terakhir memang terbaik dibanding pantai sekitarnya.

 Siung Beach

 Siung Beach 2

 Siung Beach 3

 Krakal Beach

Cabut dari pantai pukul 16.00, dan sampai di hotel pukul 18.00. Sumpah, belum habis pikir juga ya gw, niatnya sih backpackeran, tapi kenapa ada sewa mobil dan sewa hotel juga dalam agenda ini :hammer
Tetapi benar saja, tanpa sewa mobil mustahil dalam dua hari satu malam kita bisa dapet banyak spot yang dikunjungi.

Setelah bersihin diri di hotel, kita langsung cabs cari sate kuda ke arah Malioboro. Sialnya saat itu jalanan padet banget, dari mobil, dokar, sampai pejalan kaki tumpah ruah di jalanan. Selain ada acara JJC (Jogja Java Carnival) juga ada acara pembukaan apa gitu, gw juga kurang paham haha. Yowes, kita main sebentar ke Mal hunting sepatu, lah ternyata harganya sebelas duabelas dengan Jakarta, ya udah cancel aja.

Setelah cukup lapar, Kitapun mencari spot sate kuda lainnya. Dapet spotnya sih dapet, tapi.. tutup! gw cek jam ternyata 22.00. Aihh. Lalu kita makan di Lesehan Mantul. Ga terpuaskan tentu saja.


Setelah makan kitapun maen di spot-spot lainnya di Jogja hingga 03.20 pagi.

Setelah puas maen, kita pun foto-foto di bawah Tugu supaya afdol trip Jogjanya. Saat kita membicarakan tujuan selanjutnya, tiba-tiba dua personil minta dipulangkan. Setelah memulangkan, maka 4 personil lainnya tetap melanjutkan misi lanjutan hingga 4.50 pagi. Balik ke hotel dan gw bangun pukul 6.54 pagi lalu mandi. Lumayan 2,5 jam tidur sudah cukup banyak. Kebanyakan tidur malah merugikan, mengingat waktu kita yang terbatas.

 Tugu

Oiya keenam personil yang direncanakan ikut kali ini semuanya pria, adalah Mukhlis, Catur, Dimo, Gusti, Ramli, dan *sensor*. Semuanya kompak memakai nama samaran yang berawal dari ide gw. Karena tiap beraktivitas di Jogja kita memang pake nama samaran haha :hammer


Singkat cerita, Jam 08.00 menuju "Sunday Morning UGM" yang konon tiap minggu diadain. Sejenis pasar mingguan gitu sih, tapi bedanya disini banyak seniman yang juga mahasiswa seni ikut ngeramein.
Sekelompok musisi menemani sarapan pagi kami yang berupa lontong opor lesehan dengan membawakan lagu "I Will Fly" milik Ten 2 Five dengan indah sekali, suara vokalis setara lah dengan Imel Ten 2 Five yang bertattoo khas di lengan yang sempat gw lihat di salah satu club di Jakarta, Selasa malam sebelum ke Jogja.
Oh iya, sempat juga nanya harga saxophone yang dipakai oleh busker Jogja tadi, "harganya 6 juta" jawab si pemain saxophone. Mahal ya.

 Sunday Morning UGM

10.30 pagi cabut ke arah Kaliurang, sepanjang jalan memang cukup banyak bule. Lalu sampailah di Museum Wisata Gunung Merapi. Ambil gambar di depan Museum, termasuk dengan mbak polwan yang menjaga pintu masuk, cantik sih, jejepangan gitu mukanya :hammer

 Pelataran Museum Merapi

Didalam museum lengkap disajikan gambar rentetan peristiwa Gunung Merapi dari tahun ke tahun dna juga beberapa miniatur serta benda benda peninggalan letusan merapi, dari serpihan batu, alat dapur yang rusak, hingga motor butut korban merapi.

Museum1

 Museum 2

 Museum 3
 Museum 4

11.30 exit. Dan menuju hotel untuk check out jam 13.00 nanti. Setelah bla bla bla, kitapun menuju keraton dan makan siang disana, tempat itu bernama "Gudeg Wijilan Bu Nur". Setelah beres, kitapun menuju Pasar Seni Nadzar Yogyakarta untuk sekedar membeli oleh-oleh, lalu jalan-jalan di Malioboro di siang hari yang panas. Jam 15.50 baru sampai di pasar Beringharjo padahal jam 16.00 sudah harus berada di Stasiun menunggu kereta.
Dengan berbagai cara sampailah 16.10 di Stasiun Tugu. 16.15 Peron 5. 16.35 Kereta menuju Kutoarjo datang.

Pasar Seni Nadzar Yogyakarta

 Inside look

Isya kita sampai di Stasiun Kutoarjo, dan keluar stasiun untuk sholat dan cari-cari makan malam. Wew Kutoarjo ternyata begini ya, I've never been here before sih, haha.. mayanlah pernah makan sate dan pipis disana. Setelah kenyang saya pun membeli RedBull dengan niat untuk menemani bakar Marlboro sebentar. Selesai dari Kutoarjo, kamipun pulang menuju Jakarta dengan Kereta Api.

Sampai jumpa lagi, Yogyakarta cantik.



Bersambung ke DTSD Part IV...
Read more...

Jumat, Oktober 14, 2011

DTSD Part II (Pulau Semak Daun, Kep. Seribu)

(Sambungan coretan sebelumnya, masih di DTSD The Series..) 

..Setelah membaca nama di softcopy hasil download tentang pembagian kelas DTSD (Diklat Teknis Substantif Dasar) yang gw copy dari siapa-gw-juga-lupa, gw amatin ternyata gw hanya mengenal 3 biji dari 33 siswa yang bakal sekelas nanti :hammer. Nike, Dhimas, dan satu lagi yang baru gw kenal di Balikpapan, Jemma.

Bla bla blah, 26 September 2011 adalah hari pertama gw masuk kelas Diklat ini. Ditunjang warga-warga kelas yang ternyata asik, pada tanggal 28 September sepulang kuliah, kita pun langsung melakukan hangout pertama kelas, Ice Skating-an.




Esoknya, Kamis 29 September, gw bertiga (Arya yang cukup jago dan Dhimas yang berambisi menjadi jago setelah bermain satu field dengan juara dunia) kembali maen Ice Skating dikarenakan kurang puas akan Ice Skating kemarin hari yang notabene ngelatih temen doang..hahahh *sok bisa padahal nol banget :hammer 

Pulang makin meler.

Jumat 30 September malam. Saya berniat untuk istirahat semalaman, sekedar recovery. Tetapi entah mengapa saya pun mengiyakan ajakan temen untuk melakukan trip ke Pulau Semak Daun di Kepulauan Seribu. Jujur, googling mendetail tentang pulau ini saja belum sempat, sekedar melihat beberapa google images-nya saja. Awalnya sih sempat galau antara ikut atau tidak karena kondisi fisik gw yang belum pulih. Tetapi gw teringat akan sesuatu, video yang diputar oleh dosen Kreatifitas dan Inovasi kemarin, yang intinya “Andai saja kita lebih berani dan membebaskan kreatifitas diri dalam menjalani kehidupan, seperti anak kecil yang tidak takut gagal, niscaya kita akan lebih sukses mengukir indahnya hidup”. Perlahan gw mencoba mencerna kebenarannya, dan akhirnya saya pun meng-iyakan ajakan backpackeran tersebut. Ya, resume-an film tersebut mirip dengan motto hidup yang sejauh ini gw pegang dan sering gw kampanyekan, yaitu “Hidup ini punya orang berani.” Pengen buat tattoonya juga sih.

Yap. Semuanya seperti taruhan saja, kapan lagi bisa maen di Jakarta bareng kawan selain pas DTSD ini, bukan? Ingat, akhir November kita semua sudah harus kembali ke perantauan.
Hari Jumat pukul 2:00 A.M, saya yang kelaparan di kos mulai menuangkan air panas ke dalam Pop Mie. Setelah cukup mengisi perut, gw pun langsung menuju Seven Eleven Kemanggisan 2:30 A.M, disana sudah ada si Dhimas. Makan, ngobrol, rokokan, dan menunggu beberapa teman kumpul hingga subuh.

Setelah sholat kita bersepuluh menuju Muara Angke dengan angkot subuh yang bisa ditawar sangat murah. Setelah sampai di Muara Angke yang penuh bau ikan, kitapun masuk ke dalam perahu dan sekitar 3-4 jam kemudian kitapun sampai di Pulau Pramuka. Trip kali ini ke Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, Pulau Panggang. Menurut saya, coral paling bagus diantaranya ada di Pulau Air.

The Squad


Salah satu sisi Pulau Semak Daun

Ojan dan Bang Hidup


Perahu sewaan

Keliling Pulau

Ekosistem buatan

Tempat kapal Transit

Salah satu sisi ekosistem buatan

Salah satu jalan menuju tempat transit kapal

Salah satu gang di Pulau Pramuka

Sunset. Saatnya kembali dari tengah laut

Zippoku



Edisi Underwater:
Hari pertama peserta snorkeling di beberapa spot di Pulau Air lengkap 10 orang, dan hari kedua snorkeling di beberapa spot di Pulau Panggang sejumlah 6 orang.

Snorkeling day 2

Si Dhimas yang keberadaan tititnya masih dipertanyakan gara-gara serbuan ikan-ikan terhadap biskuit dalam celana dalamnya.


Pulau Pramuka, Pulau Air, Pulau Semak Daun, Pulau Panggang, dan pulau-pulau lain yang dilewati, sampai jumpa.


Bersambung ke DTSD Part III...
Read more...